<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-37339006</id><updated>2011-04-21T15:42:12.849-07:00</updated><title type='text'>economic -regulation</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://economic-regulation.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37339006/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economic-regulation.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Manifesto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094989407491147003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37339006.post-116297644150026331</id><published>2006-11-08T00:56:00.000-08:00</published><updated>2006-11-08T01:00:41.506-08:00</updated><title type='text'>Memahami dan Membumikan Teori Regulasi</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="AMH"&gt;Sinopsis Teori Regulasi :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="AMH"&gt;Memahami dan Membumikan Teori Regulasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="AMH"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="AMH"&gt;Selama ini, kritikan terhadap aliran utama dalam ekonomi selalu “dipandang sebelah mata”, karena dianggap tidak mampu membuktikan lewat angka dan hasil dari perhitungan yang rumit dengan model ekonometri atau rumus matematika. Teori Regulasi berhasil menawarkan “pemikiran alternatif” melalui pembuktian kuantitatif. Robert Boyer (salah satu pelopor Teori Regulasi) adalah seorang ahli kimia dan matematika yang kemudian tertarik dengan pertanyaan-pertanyaan dasar (epistemologi). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="AMH"&gt;Dan akhirnya, dia beranggapan bahwa perangkat kuantitatif (rumus matematika dan model-model ekonometrik) bukanlah satu-satunya kebenaran, melainkan alat-alat analisis yang harus digunakan secara hati-hati. Metodologi kuantitatif harus ditempatkan dalam penelusuran epistemologis yang dalam. Kalau tidak akan tergelincir pada pemujaan angka-angka dan menganggap formula matematika sebagai realita. Itulah kencenderungan para penganut neo-klasik: terlalu percaya pada angka dan kurang peka pada realita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="AMH"&gt;Teori Regulasi, pada dasarnya membuka persamaan ekonomi dengan memasukkan proses politik dan dilema etis dalam masyarakat. Jelas sekali, persoalan ekonomi bukanlah sebuah transaksi untung rugi, efektifitas dan efisiensi belaka, tetapi menyangkut dimensi keadilan, konfigurasi pembagian kekuasaan dsb. Untuk itu, tidak ada satu solusi terbaik seperti versi neo-klasik, yang mengaggap pasar sebagai satu-satunya solusi yang paling baik dari segala masalah ekonomi (&lt;i&gt;one best way solution&lt;/i&gt;). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="AMH"&gt;Teori Regulasi, bukan dalam pengertian &lt;i&gt;regulation&lt;/i&gt; (bahasa Inggris) yang berarti “aturan” (regulasi dalam bahasa Indonesia), melainkan &lt;i&gt;régulation&lt;/i&gt; yang berarti bahwa ekonomi harus dibangun dalam sebuah konteks relasi sosial tertentu. Dalam hal ini, Teori Regulasi memiliki pendekatan heterodox (lawan dari orthodox). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="AMH"&gt;Bersama dengan aliran Neo-Institusionalis, aliran konvensi dan aliran anti-utilitarian, teori Regulasi dianggap sebagai aliran institusionalis &lt;i&gt;à la&lt;/i&gt; Prancis. Penyebutan keempat aliran ini sebagai “Mashab Prancis” bisa jadi tidak perlu. Hal yang perlu disadari adalah, pemikiran ekonomi juga tidak pernah lepas dari konteks historis dan konteks ekonomi-politik negara di mana dia berkembang. Demikian juga tentang konsep pembangunan, mekanisme ekonomi, hubungan antar-institusi dan juga interaksi sosial pada umumnya, tidak pernah terlepas dari konteks “time” and “space”nya. Seperti kita tahu, di AS juga berkembang pemikiran institusionalis, seperti dipelopori oleh Veblen, Douglass North, Olivier Williamson dsb. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="AMH"&gt;Ada beberapa pemikiran yang mempengaruhi Teori Regulasi seperti Marxisme, Annales dan habitus. Ekonomi harus dilihat dalam keterkaitan historis dan strukturalnya yang menghasilkan sebuah “trajectory” dalam jangka panjang. Selain itu, ekonomi bukan semata menyangkut pilihan rasional (&lt;i&gt;rational choice&lt;/i&gt;), prinsip maksimalisasi (&lt;i&gt;pareto optimum&lt;/i&gt;), biaya transaksi (&lt;i&gt;transaction&lt;/i&gt; &lt;i&gt;cost&lt;/i&gt;), melainkan juga menyangkut kebiasaan-kebiasaan yang sudah mengakar dalam masyarakat (&lt;i&gt;habitus&lt;/i&gt;). Model ekonomi makro yang digunakan adalah Model Kalechian (neo-cambregian) yang sarat dengan campur tangan negara dalam ekonomi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="AMH"&gt;Dengan kata mata Teori Regulasi, kita bisa membongkar segala macam masalah yang sedang kita hadapi di hari ini, mulai dari penerbitan Obligasi Ritel Negara (ORI), pembayaran utang kepada IMF, kebijakan fiskal, UU Investasi Asing hingga masalah PT Laphindo. Pada dasarnya, kita berada pada titik yang makin membahayakan pasca-krisis, karena krisis yang disebabkan oleh liberalisasi (khususnya liberalisasi finansial di tahun 1980-an) dipecahkan dengan liberalisasi yang makin lebar. Krisis yang disebabkan oleh kerawanan finansial justru dipecahkan dengan memperlebar gap antara sektor finansial dan sektor riil. Dalam konteks ini, penerbitan ORI bisa menjadi bumerang di masa depan. Masalah kemiskinan, pengangguran, korupsi, globalisasi, krisis ekonomi, semua terkait dengan basis sosial dari sebuah dinamika ekonomi, sehingga tidak bisa direduksi sebagai angka-angka dan besaran ekonomi belaka. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="AMH"&gt;Pada dasarnya, Teori Regulasi membuka wawasan kita dengan menawarkan “lima model regulasi” yang terdiri dari 1).Relasi kapital – perburuhan, 2).Bentuk kompetisi, 3).Sistem moneter, 4).Model negara dan 5).Rejim internasional. Berdasar pada 5 “mode of regulation” ini, menurut Teori Regulasi paling tidak ada 4 model kapitalisme yang berkembang, yaitu &lt;i&gt;market-oriented&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Meso-corporatist&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;statist &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;social-democratic&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="AMH"&gt;Lebih dari itu, Teori Regulasi mengajarkan bahwa ekonomi adalah bagian dari relasi sosial yang terikat dalam konteks kesejarahan sebuah bangsa. Jadi memformulasikan berbagai masalah, sekaligus menemukan pemecahannya merupakan tugas utama bagi masyarakat warga bangsa tersebut. Disinilah relevansi yang paling mendasar untuk memahami dan kemudian membumikan pemikiran Teori Regulasi ini. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: right; text-indent: 0.5in;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="AMH"&gt;-By : AP-&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="AMH"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="AMH"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37339006-116297644150026331?l=economic-regulation.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economic-regulation.blogspot.com/feeds/116297644150026331/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37339006&amp;postID=116297644150026331' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37339006/posts/default/116297644150026331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37339006/posts/default/116297644150026331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economic-regulation.blogspot.com/2006/11/memahami-dan-membumikan-teori-regulasi_08.html' title='Memahami dan Membumikan Teori Regulasi'/><author><name>Manifesto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094989407491147003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37339006.post-116297596082428173</id><published>2006-11-08T00:50:00.000-08:00</published><updated>2006-11-08T00:52:40.846-08:00</updated><title type='text'>MAUSS dan Prasangka</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;MAUSS dan Prasangka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Di tahun 1980, pada sebuah acara makan siang terjadilah percakapan antara seorang sosiolog Perancis, Alain Caille dan seorang antropolog Swiss, Gerald Berthoud. Mereka sedang mengikuti konferensi lintas ilmu, yang sudah berlangsung beberapa hari, yang membahas mengenai perbuatan atau tindakan memberi. Setelah mempelajari makalah-makalah yang disampaikan, mereka sangat terkejut menemukan bahwa tidak ada seorang pembicara pun yang mengatakan bahwa tindakan memberi itu sebagai perbuatan yang dermawan, atau karena sungguh-sungguh berdasarkan keprihatinan atas kemaslahatan orang lain. Mereka justru tidak percaya bahwa tindakan memberi itu pernah ada. Gali dalam-dalam ke belakang semua tindakan manusia, maka kita akan menemukan bahwa kepentingan diri sendiri dan strategi kalkulatif di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, pendapat mereka. Bahkan mereka dengan sangat aneh berasumsi bahwa strategi kepentingan diri sendiri itu selalu, dan niscaya, merupakan kebenaran yang ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="FR"&gt;Dari peristiwa tersebut lalu muncul ide MAUSS (&lt;i&gt;Mouvement Anti-Utilitariste dans les Sciences Sociales&lt;/i&gt;), yang mendedikasikan diri mereka untuk menyerang secara sistematis inti filosofis teori ekonomi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Mereka mendasarkan inspirasi mereka pada pandangan seorang sosiolog besar Perancis awal abad XX, Marcel Mauss. Dalam bukunya yang berjudul &lt;i&gt;The Gift&lt;/i&gt;, tahun 1925, Mauss membantah asumsi di belakang teori ekonomi tersebut. Mauss membuktikan bahwa masyarakat baik non-Barat maupun masyarakat Barat sekali pun tidak seluruhnya berjalan dan bekerja sesuai serta seturut dengan prinsip ekonomi pasar. Asumsi universal semangat pasar bebas bahwa apa yang secara mendasar mendorong dan menggerakkan manusia adalah keinginan untuk memaksimalkan pemenuhan nikmat, kenyamanan dan kepemilikan material. Dan seluruh makna interaksi manusia dianalisa dalam keyakinan semacam itu. Mauss mengajukan kanyataan yang ditemukan pada masyarakat &lt;i&gt;potlatch&lt;/i&gt; di Amerika, suku &lt;i&gt;kula&lt;/i&gt; di Pasifik dan suku &lt;i&gt;hua &lt;/i&gt;di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;New Zealand&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, bahwa dasar kehidupan bersama mereka itu ada pada tindakan memberi. Memberi adalah sebuah perasaan universal manusiawi yang mendorong manusia untuk bertindak termasuk untuk memenuhi kebutuhan mereka secara bersama. Mauss menegaskan bahwa dalam masyarakat tradisional, tindakan memberi merupakan “kenikmatan” dan “kebahagiaan” itu sama sekali tidak dapat dilihat sebagai pencarian kepentingan diri sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Masalah seperti itu yang kemudian dicoba untuk dibahas oleh kelompok kecil ilmuwan lintas ilmu Perancis dan ilmuwan berbahasa Perancis (Caille, Berthoud, Ahmet Insel, Sarge Latouche, Pauline Taieb) yang kemudian menjadi MAUSS. Kelompok ini mengawali kerja mereka dalam sebuah jurnal,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Revue du MAUSS&lt;/i&gt;, jurnal kecil yang dicetak asal-asalan dengan kertas yang jelek, penulisnya terkesan seperti main-main, dan tidak memiliki gebyar internasional. Caille menulis manifesto, Insel menghembuskan angan-angan konferensi besar internasional anti utilitarian pada masa yang akan datang. Di pertengahan tahun 90-an, MAUSS menjadi jaringan para ilmuwan yang mengesankan, meliputi sosiolog dan antropolog sampai ekonom, sejarahwan dan filsuf, dari Eropah, Amerika dan Timur Tengah. Gagasan-gagasan mereka ditampilkan dalam tiga jurnal berbeda dan sebuah seri buku yang didukung oleh konferensi tahunan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Sejak pemogokan 1995 dan terpilihnya sebuah pemerintahan sosialis, karya MAUSS mengalami masa pasang naik di Perancis, dan secara politis anggotanya lebih dikenal. Tahun 1997, Caille meluncurkan “30 Tesis bagi Kiri Baru”, dan MAUSS melakukan konferensi tahunan untuk membahas masalah kebijakan tertentu. Contoh salah satu tesis Caille itu adalah setuju dengan Mauss dalam menerima beberapa jenis pasar yang tak terelakkan, tetapi tetap berusaha menghapus kapitalisme, dalam arti usaha mendapatkan keuntungan finansial sebagai tujuan akhirnya. Pada seminarnya di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, Caille menegaskan bahwa ekonomi itu bukan sebuah mesin, ekonomi tertanam dalam masyarakat dan ekonomi mengasumsikan politik dan moral komunitas. Olehnya, Caille merekomendasikan dilakukannya pemberdayaan masyarakat dalam bentuk: penyediaan lapangan kerja, penguatan solidaritas masyarakat berdasar ekonomi dan memberikan jaminan kebutuhan minimum masyarakat. Inilah bentuk nyata tindakan memberi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Saya ingin menanggapi bagian rekomendasi Caille, yaitu masalah penguatan solidaritas ekonomi dalam masyarakat. Di mana bagi saya, wilayah ini lebih dekat jangkaunnya dengan kita masing-masing secara personal, ketimbang dua rekomendasi lainnya yang lebih dekat pada kebijakan institusional yang harus lebih besar dan kuat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sejalan dengan Mauss, bahwa memberi adalah fondasi yang mendasari tindakan manusia dalam hidup bersama, saya melihat etika kepedulian Carol Gilligan memiliki kemiripan. Gilligan dalam bukunya &lt;i&gt;“In a Different Voice”&lt;/i&gt; tahun 1983, menunjukkan bagaimana bentuk sebuah etika yang khas intuisi perempuan, yaitu etika kepedulian (&lt;i&gt;ethics of care&lt;/i&gt;). Gilligan mengkritik etika keadilan yang memiliki kata kunci “hak”, “kewajiban”, “kontrak”, “&lt;i&gt;fairness&lt;/i&gt;”, “ketimbalbalikan”, “keberlakuan universal” dan “otonomi”. Etika keadilan berdasar pada pandangan individu atomistik yang seakan-akan segala masalah harus diselesaikan secara “rasional” dan “otonom”, lepas dari ketertenamannya dalam alam nilai sebuah kebudayaan tertentu. Bertentangan dengan pemikiran itu, etika kepedulian bersifat kontekstual dan situasional, berpusat pada orang konkret dan kebutuhannya, orang dilihat dalam rangka sebagai suatu hubungan personal dan sosial, dengan hubungan-hubungan kesalingtergantungan dan keterlibatan emosional. Sikap-sikap yang ditegaskan di sini adalah peduli pada sesama, empati, hubungan konkret antarorang daripada sistem peraturan, orang dilihat dalam ketertanamannya dalam sebuah konteks sosial tertentu dan bukan sebagai sebatang kara. Kalau etika keadilan berfokus secara eksklusif pada tindakan, maka etika kepedulian menegaskan bahwa kemampuan untuk menunggu, kesabaran, kemampuan untuk percaya pada orang lain, untuk mendengarkannya merupakan sikap-sikap yang sama menjadi kunci penting dalam keseluruhan dimensi moral. Ciri khas etika kepedulian adalah berpusat pada bagaimana orang peduli mengenai kebutuhan-kebutuhan nyata orang lain. Inti moralitas bukan lagi sikap adil yang tidak berpihak, melainkan kepedulian yang justru berpihak, kehangatan hati dan sikap yang nyata-nyata menunjang orang lain dalam situasi yang khas. Tentu saja etika kepedulian ini harus diletakkan berdampingan dengan etika keadilan yang terasa prosedural dan formal, meskipun bagi Gilligan etika kepedulian hendaknya didahulukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Bagi saya, dalam konteks &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, untuk mengembangkan paradigma memberi MAUSS, kita terlebih dahulu hendaknya memperhatikan hasil penelitian Sarlito dan para mahasiswanya. Dalam penelitian tersebut, mereka menemukan bahwa perilaku orang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; rupa-rupanya ditentukan secara kuat oleh prasangka negatif, prasangka buruk tepatnya. Dalam buku yang berjudul “&lt;i&gt;Psikologi Prasangka Orang Indonesia&lt;/i&gt;” tahun 2006, Sarlito menyatakan bahwa akar sikap prasangka buruk orang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; ini disebabkan oleh ketidakpastian norma (ukuran, aturan, idealisme, kebenaran, dsb.)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan ketidakpercayaan diri pada orang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sehingga tidak bisa mengandalkan akal pikiran sehatnya sendiri. Contoh jelas dapat ditemukan pada kasus orang yang disangka maling bisa dikeroyok dan dibakar hidup-hidup, prasangka terhadap etnik Cina, kerusuhan Ambon, Poso dan Kalimantan Barat serta peristiwa Tanjung Priok. Kejadian-kejadian tersebut rupa-rupanya, menurut hasil studi empirik Sarlito dan timnya, dipicu oleh prasangka-prasangka etnik, agama dan politik. Prasangka di sini diartikan sebagai suatu evaluasi negatif seseorang atau sekelompok orang terhadap orang atau kelompok lain, semata-mata karena orang atau kelompok itu merupakan anggota kelompok lain yang berbeda dari kelompoknya sendiri. Prasangka merupakan persepsi yang bias karena informasi yang salah atau tidak lengkap, serta didasarkan pada sebagian karakteristik kelompok lain baik nyata maupun khayalan. Misalnya, orang Madura di Kalimantan Barat memandang orang Melayu sebagai “kerupuk” dan orang Dayak sebagai “kafir”, sedangkan etnik lain melihat orang Madura sebagai kolompok eksklusif yang agresif dan selalu bersenjata clurit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Sarlito menelusuri asal prasangka ini sampai pada proses indentifikasi dan pendefinisian diri seseorang berdasarkan kelompok sosialnya, sehingga timbullah identitas sosial. Dalam praktik, identitas sosial itu muncul dalam pernyataan seperti, “Nama saya Si Anu, berasal dari Kota Itu, pekerjaan dan jabatan sebagai apa, dsb,” Dalam mengidentifikasi dan mendefinisikan diri itu, ada tiga hal yang dilakukan seseorang, yaitu kategorisasi, identifikasi dan membandingkan. Kategorisasi dilakukan penggolongan ras, etnik, agama dan status sosial. Identifikasi dibuat berdasarkan suatu kelompok yang sudah diimajinasikan sendiri, sehingga muncul persepsi &lt;i&gt;ingroup-outgroup&lt;/i&gt;, misalnya FBR, FORKABI, FPI, PP, dst. Tahap selanjutnya adalah membanding-bandingkan. Anggota kelompok &lt;i&gt;ingroup&lt;/i&gt; akan selalu mamandang kelompoknya sendiri itu lebih baik, lebih menyenangkan, lebih postif, lebih unik dibandingkan dengan kelompok lainnya yang dinilai secara lebih negatif. Dari situ kemudian secara kognitif terbentuklah stereotipe, yaitu penggeneralisasian yang dilakukan hanya berdasarkan kanggotaan seseorang dalam suatu kategori kelompok tertentu, seperti telah diberi contoh di atas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Pada bagian akhir ini, saya mengajukan pertanyaan. Katakan saja bahwa penelitian Sarlito dan timnya itu mewakili karakter psikologis orang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pada umumnya. Kemudian bagaimana dengan rekomendasi Caille mengenai penguatan solidaritas berdasar ekonomi dalam masyarakat kita? Dapatkah kita mengembangkan sikap memberi itu dari kuatnya prasangka buruk kita kepada sesama kita sendiri? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="FR"&gt;Kalau dapat, berarti itu suatu tanda dan berita yang baik bagi kita semua. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Jika tidak, dari mana kita akan memulainya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;By : SidulkimpuL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Depok &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37339006-116297596082428173?l=economic-regulation.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economic-regulation.blogspot.com/feeds/116297596082428173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37339006&amp;postID=116297596082428173' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37339006/posts/default/116297596082428173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37339006/posts/default/116297596082428173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economic-regulation.blogspot.com/2006/11/mauss-dan-prasangka.html' title='MAUSS dan Prasangka'/><author><name>Manifesto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094989407491147003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
